Langsung ke konten utama

Semarak Gelar Karya Keterampilan Tata Busana

 




   Hari ini, 3 Februari 2024, pagi menyelimuti MAN 1 Jember dengan cahaya hangat yang lembut. Lapangan utama depan gedung SKS berubah menjadi kanvas hidup, tempat kreativitas dan mimpi saling bertemu. Gelar karya siswa kelas 12 keterampilan tata busana membuka tirainya, mengalir dari jam istirahat pertama hingga jam pembelajaran keenam, seperti sungai kecil yang membawa warna, tawa, dan haru.

    Para siswi melangkah bak lukisan yang bergerak. Busana-busana rancangan mereka menari di udara: Belanda yang anggun dengan garis sederhana namun tegas, Prancis yang romantis berlapis ruffle dan warna pastel, Spanyol yang berani memantulkan semangat merah dan emas, Polandia yang klasik dengan simetri yang menenangkan, Inggris yang elegan dan rapi, serta Swiss yang tenang namun memikat. Setiap kain, setiap lipatan, seakan berbisik tentang cerita panjang yang dihidupkan di sini, di tangan-tangan muda yang penuh semangat.

    Di pinggir lapangan, teman-teman menyaksikan dengan cara masing-masing. Ada yang terdiam, terpesona pada gerak anggun yang mengalir seperti puisi tanpa kata. Ada yang sambil mencicipi cemilan, tersenyum kecil saat warna-warna itu menabrak cahaya mentari. Ada pula yang sibuk menyalakan kamera, mencoba membekukan momen agar tetap abadi, meski mereka tahu bahwa keindahan sejati hanya hidup dalam detik itu sendiri.

    Puncak acara tiba dalam ledakan warna. Smoke bomb menyebar di tengah lapangan, kabut merah, biru, kuning, dan hijau menari mengikuti gerak langkah para siswa. Dari kelas tata busana hingga elektronika, otomotif, pertanian, dan komputer, semua berhamburan ke tengah lapangan. Gelak tawa, sorak sorai, tepukan tangan, dan pelukan berpadu menjadi simfoni kebahagiaan. Udara terasa bergetar dengan ritme perpisahan dan syukur, tarian tanpa musik yang hanya bisa didengar oleh hati.

    Di akhir acara, siswa dan guru merapat untuk foto bersama. Salam hangat, jabat tangan, senyum, dan mata yang berbinar menjadi saksi diam dari kebersamaan yang abadi. Di momen itu, aku melihat sekilas masa depan: hari-hari ketika angkatan kami akan mengenang detik ini, merasakan kembali bagaimana kreativitas, solidaritas, dan kebersamaan berpadu dalam satu hari yang sederhana namun begitu magis.

    Hari ini, di tengah cahaya yang menari, warna yang menggelegar, dan tawa yang mengalir tanpa henti, aku menyadari: kenangan tidak selalu lahir dari hal besar. Kadang, ia muncul dari langkah-langkah ringan di lapangan, dari kain yang menari di udara, dari kabut warna yang melayang, dan dari tawa yang tercurah tanpa pamrih. Ia lahir dari momen-momen kecil yang, diam-diam, menenun kisah yang akan selalu kita ingat.



     






Komentar