Langsung ke konten utama

Cerita dari Jam Kosong di Kelas

 


    Jamkos, sebuah kata yang mungkin sederhana, tetapi diam-diam memiliki daya magis. Ia datang di sela-sela padatnya jam pelajaran, membawa napas lega, seolah semesta sengaja memberi jeda agar pikiran yang penat dapat beristirahat. Kamis, 1 Februari 2024, menjadi salah satu hari di mana aku merasakan betul bagaimana jamkos bukan sekadar waktu kosong, melainkan ruang di mana kisah-kisah kecil lahir dan bersemayam.

    Aku memulainya dengan berkunjung ke pojok baca di kelas. Di sana, rak sederhana menyimpan dunia-dunia rahasia. Tanganku berhenti pada sebuah buku berjudul Kado Terindah Rasulullah. Buku itu bercerita tentang para istri Rasulullah SAW, ditulis dalam gaya biografi yang beraroma kisah. Aku larut di dalamnya. Setiap lembar seakan menyibak tirai masa lalu, memperlihatkan wajah-wajah penuh kesetiaan, cinta, dan perjuangan. Hampir dua jam aku bertahan, sampai mataku lelah, tapi hatiku enggan menutup halaman. Ada getar halus yang tersisa: bahwa membaca adalah cara sederhana untuk berjalan jauh tanpa harus melangkahkan kaki.

    Namun waktu terus melaju. Aku berpindah dari dunia kata-kata ke dunia angka. PR Biologi dan Fisika menantiku, menuntut keseriusan yang berbeda. Aku kerjakan satu per satu, bukan hanya agar tugas tidak menumpuk, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab kepada diriku sendiri. Setelahnya, naskah film pendek kelompokku menunggu untuk direvisi. Kata-kata kembali menuntut perhatianku, kali ini dalam bentuk dialog, adegan, dan alur cerita. Rasanya seperti berdiri di dua dunia: dunia logika yang ketat, dan dunia imajinasi yang lentur. Setelah puas dengan tugasku, aku bersandar. Aliya, teman sebangkuku, menjadi teman bicara. Kami berbagi cerita acak, percakapan yang mungkin tidak penting tetapi justru memberi kehangatan. Kadang, dalam hal-hal remeh, tersimpan rasa lega yang tak ternilai.

    Istirahat tiba. Bekal sederhana dan hiruk-pikuk kafetaria mengisi ruang perut yang kosong. Setelah selesai makan, langkahku terhenti di dekat Agis yang sedang melukis. Tangannya bergerak pelan, penuh perhitungan, dan kanvas itu seakan hidup. Warna-warna yang ia taburkan bukan sekadar gambar; ia seperti mengisahkan sesuatu tanpa suara. Aku terpaku lama, seolah sedang membaca sebuah puisi tanpa kata. Betapa indahnya: ada orang yang bisa melukis dunia, sementara aku menulisnya dengan kata-kata. Dua cara berbeda, tapi sama-sama menghadirkan kehidupan.

    Waktu terus berjalan. Suasana kelas kembali serius ketika perwakilan kelas mulai membicarakan acara realis. Kami duduk, mendengarkan konsep, jadwal, dan kebutuhan latihan. Suasana hening, fokus, dan penuh tanggung jawab. Namun begitu rapat selesai, kelas kembali menjadi panggung kehidupan remaja: Aliya kembali dengan gamenya. Ia sibuk mendesain, sesekali bertanya padaku tentang pilihan yang lebih cocok. Aku bukan pemain, hanya penonton. Tapi dalam peran kecil itu, aku merasa terlibat, dan itu cukup membuatku bahagia.

    Hingga akhirnya panggilan latihan datang. Kami merapikan kursi, menggeser meja, membersihkan lantai. Ruangan kelas mendadak berubah menjadi ruang tari. Kami berdiri dalam barisan, mencoba gerakan demi gerakan. Tidak semua langkah rapi, tidak semua gerak seirama, tetapi di sanalah letak kebersamaannya. Kami tertawa saat ada yang salah, kami saling mengingatkan ketika formasi berantakan. Peluh bercampur dengan canda, dan di sanalah aku belajar bahwa kerja sama adalah tarian tersendiri, tarian hati yang tidak membutuhkan panggung mewah.

    Jamkos itu akhirnya berakhir dengan dentang bel pulang. Kegiatan sederhana seperti membaca, menulis, bercakap, melukis, berdiskusi, hingga menari, berdiri berdampingan menjadi mosaik pengalaman. Tidak ada peristiwa besar, tidak ada kejadian heroik. Namun justru dalam kesederhanaannya, jamkos menghadirkan pelajaran: bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian besar, melainkan juga tentang cara kita merayakan jeda kecil, kebersamaan, dan momen-momen yang sering dianggap remeh.

    Jamkos kali ini mungkin akan dilupakan orang lain, tapi tidak untukku. Ia akan tetap menjadi cerita kecil yang membentuk kepingan diriku. Sebab bukankah, seperti kata Haruki Murakami,

“Memori kita bukan hanya menyimpan hal-hal besar, melainkan juga detail-detail kecil yang diam-diam menentukan siapa kita”

Komentar