Langsung ke konten utama

Dua Sesi, Satu Cerita

 

Gambar ilustrasi ruang kelas elektronika, sumber: Pinterest, oleh Kevin Vélez

    

    Setelah seminggu hening karena Dies Maulidiyah, ruang praktik keterampilan elektronika MAN 1 Jember kembali dipenuhi oleh siswa siswi kelas 11 MIPA 3 dan IPS 4. Tanggal 21 Mei 2025, kami datang bukan sekadar membawa buku dan pena, tapi juga sisa-sisa semangat yang tertatih di tengah padatnya minggu-minggu akhir semester. Hari ini, bukan praktik kabel atau solder yang menanti, melainkan dua sesi ulangan yang menggugah nalar.

    Sesi pertama dimulai saat jarum jam menyentuh pukul satu siang. Ujian esai sebanyak sepuluh soal membuka siang yang panas. Materi yang diujikan tentang sistem digital, gerbang logika, dan sistem bilangan. Hal-hal yang di atas kertas mungkin terlihat seperti soal singkat, namun nyatanya cukup bikin dahi mengernyit. Ada hitung-hitungan logika biner yang menari di otakku, dan aku harus tetap fokus meski konsentrasi tak sepenuhnya utuh.

    Jujur saja, aku hanya sempat mempelajari materi sekitar 30 menit sebelum ujian dimulai. Bukan karena tak ingin belajar lebih awal, tapi tugas-tugas lain datang silih berganti setiap harinya. Hafalan, deadline tugas kelas, dan seabrek kewajiban lain membuat waktu terasa kejam dan sempit. Tapi meski sedikit terseok, aku tetap menyelesaikan semua soal dengan segenap yang kupunya, dengan sidikit pasrah tentunya.

    Lalu datanglah waktu istirahat. Sebentar bernafas, sebentar meregang, salat dan mengisi perut (memenuhi mood lebih tepatnya). Sebelum akhirnya kami masuk lagi ke sesi kedua: Penilaian Akhir Tahun keterampilan. Karena mata pelajaran Elektronika tidak terjadwal seperti beberapa mapel lainnya, maka ulangan keterampilan dilangsungkan lebih awal dan kami semua mau tak mau harus siap.

    Kali ini soal pilihan ganda, sebanyak lima puluh nomor. Sekilas tampak lebih ringan, tapi di balik huruf a, b, c, d dan e pasti ada saja pilihan yang membuat sedikit bingung untuk memilihnya. Materi yang keluar masih seputar sistem digital, komputer, dan pemahaman teknis lain yang telah kami pelajari sepanjang semester genap ini. Namun syukurlah, soal-soal itu terasa sedikit lebih ramah dibanding esai sebelumnya.

    Setelah semua lembar jawaban dikumpulkan, kami langsung mengoreksinya bersama, dengan ditukar dengan teman di samping kita masing-masing. Detik-detik saat pembacaan kunci jawaban ada saja yang selalu membuat jantung berdebar, ya takut jauh dari ekspektasi awal. Dan setelah selesai, alhamdulillah, hasilnya lumayan. Mungkin bukan yang terbaik, tapi cukup untuk menempatkanku di barisan atas. Ada lega yang menggulung pelan-pelan disini.

    Hari itu bukan hanya tentang nilai, tapi juga tentang bagaimana aku bertahan. Di antara lelah, sempitnya waktu, dan tekanan yang tak terlihat, aku masih bisa menyelesaikan semuanya. Mungkin dengan keyakinan dan beberapa yang mengandalkan insting, tapi tetap selesai. Hari itu mengajarkanku bahwa kesungguhan bisa datang dari tempat yang paling sempit sekalipun, asal niatnya tetap utuh.

    Dan dari tanggal 21 Mei ini, aku belajar bahwa kadang kita tak perlu selalu sempurna. Cukup hadir dengan hati yang jujur, usaha yang tulus, dan keberanian untuk mencoba, meskipun dunia sedang sibuk memutar logikanya sendiri. Sebab dalam hidup, seperti dalam gerbang logika, selalu ada pilihan: dan yang terpenting, adalah keberanian untuk memilih dan bertahan. 

Komentar