A.
Tujuan
1.
Mengetahui rancangan power bank
2.
Mengetahui cara kerja power bank
3. Meningkatkan keterampilan merangkai atau merakit power bank
B. Alat
dan Bahan
Alat : solder dan avometer
Bahan : timah, modul power bank, kabel jumper, baterai, serta casing baterai.
C. Dasar
Teori dan Prinsip Kerja Power Bank
Secara fundamental, power
bank adalah perangkat penyimpan energi listrik portabel yang
menggunakan sel baterai litium untuk mengisi ulang perangkat elektronik.
Prinsip kerjanya didasarkan pada siklus pengisian dan pengosongan daya. Saat
power bank diisi dayanya, energi listrik dari sumber eksternal (misalnya
adaptor 5V) diubah dan disimpan dalam baterai litium. Saat digunakan
untuk mengisi perangkat lain, sirkuit di dalam power bank akan
mengambil energi dari baterai, menaikkan tegangan (jika diperlukan) melalui
konverter boost, dan mengeluarkannya melalui port USB dengan
tegangan dan arus yang stabil (umumnya 5V dengan arus keluaran
bervariasi antara 1A hingga 3A). Goodenough dan Park (2013) menegaskan, “Lithium-ion
batteries have revolutionized portable electronics by providing high energy
density, long cycle life, and reliable performance” (p. 69). Hal ini
menjadi dasar pemilihan baterai litium dalam power bank modern.
1. Komponen
Utama dan Spesifikasi Teknis
Struktur power bank terdiri
atas baterai litium sebagai penyimpan utama, boost converter sebagai
pengubah tegangan, dan modul proteksi. Selain itu, konektor seperti USB-A atau
USB-C berperan sebagai gerbang energi keluar. Menurut blog Listrik-Praktis,
nilai mAh pada power bank bukanlah indikator tunggal kapasitas sebenarnya,
tegangan nominal baterai (sekitar 3.7 V) dan output USB (5 V) menjadi faktor
penting dalam memahami performa real. Ini memperkuat perlunya pendekatan teknis
yang lebih hati-hati saat menafsirkan angka di kemasan (Suhinar El, 2015).
2.
Proses Kerja dan Alur Daya
Dalam mekanisme kerjanya, power
bank memiliki dua siklus utama: charging dan discharging.
Saat pengisian, arus AC dari adaptor diubah
menjadi DC melalui adaptor charger, lalu masuk ke baterai
Li-ion (±3,7 V) melalui Battery Management System (BMS) yang
mengatur arus-tegangan serta mencegah overcharge dan overheating.
Ketika digunakan, energi DC dari baterai disalurkan dalam tegangan
rendah (±3,7 V) lalu dinaikkan oleh boost converter menjadi 5 V
DC sesuai standar USB. Konversi ini memungkinkan smartphone atau
perangkat lain menerima daya dengan stabil. Kapasitas lebih akurat dihitung
dalam mWh, lalu dikonversi ke 5 V. Namun, karena efisiensi konversi hanya
sekitar 85–90%, sebagian energi hilang dalam bentuk panas. Hal ini
membuat kapasitas riil selalu lebih rendah daripada angka teoritis.
3. Faktor
Keamanan dalam Perakitan
Pemilihan baterai menjadi aspek
utama dalam perakitan power bank. Baterai harus asli dan
berkualitas tinggi, sebab penggunaan baterai bekas atau cacat berpotensi
menimbulkan kebocoran maupun korsleting. Menurut RRI (2021) melaporkan
bahwa sebagian besar kasus kebakaran power bank disebabkan oleh baterai bermutu
rendah yang tidak dilengkapi modul proteksi memadai. Selain kualitas
baterai, keberadaan modul perlindungan juga wajib diperhatikan.
Modul dengan fitur Over
Current Protection (OCP), Over Voltage Protection (OVP), Under
Voltage Protection (UVP), dan Short Circuit Protection (SCP) berfungsi
mencegah arus berlebih dan korsleting. Menurut VARTA (2023),
penggunaan sensor suhu dan detektor tegangan merupakan standar industri untuk
menghindari kondisi tidak aman pada sel baterai litium-ion. Aspek teknis
lain yang tidak kalah penting adalah penyolderan dan pengujian fungsi.
Penyolderan yang tidak rapi dapat
memicu korsleting antarjalur. Harvard EHS (2022) menjelaskan bahwa
pemanasan berlebih saat penyolderan berpotensi merusak struktur internal
baterai dan memicu risiko kebakaran. Oleh karena itu, setiap unit power
bank perlu diuji terlebih dahulu menggunakan multimeter untuk
memastikan keluaran arus dan tegangan sesuai standar keamanan.
C. Dasar
Teori dan Prinsip Kerja Power Bank
Secara fundamental, power
bank adalah perangkat penyimpan energi listrik portabel yang
menggunakan sel baterai litium untuk mengisi ulang perangkat elektronik.
Prinsip kerjanya didasarkan pada siklus pengisian dan pengosongan daya. Saat
power bank diisi dayanya, energi listrik dari sumber eksternal (misalnya
adaptor 5V) diubah dan disimpan dalam baterai litium. Saat digunakan
untuk mengisi perangkat lain, sirkuit di dalam power bank akan
mengambil energi dari baterai, menaikkan tegangan (jika diperlukan) melalui
konverter boost, dan mengeluarkannya melalui port USB dengan
tegangan dan arus yang stabil (umumnya 5V dengan arus keluaran
bervariasi antara 1A hingga 3A). Goodenough dan Park (2013) menegaskan, “Lithium-ion
batteries have revolutionized portable electronics by providing high energy
density, long cycle life, and reliable performance” (p. 69). Hal ini
menjadi dasar pemilihan baterai litium dalam power bank modern.
1. Komponen
Utama dan Spesifikasi Teknis
Struktur power bank terdiri
atas baterai litium sebagai penyimpan utama, boost converter sebagai
pengubah tegangan, dan modul proteksi. Selain itu, konektor seperti USB-A atau
USB-C berperan sebagai gerbang energi keluar. Menurut blog Listrik-Praktis,
nilai mAh pada power bank bukanlah indikator tunggal kapasitas sebenarnya,
tegangan nominal baterai (sekitar 3.7 V) dan output USB (5 V) menjadi faktor
penting dalam memahami performa real. Ini memperkuat perlunya pendekatan teknis
yang lebih hati-hati saat menafsirkan angka di kemasan (Suhinar El, 2015).
2.
Proses Kerja dan Alur Daya
Dalam mekanisme kerjanya, power
bank memiliki dua siklus utama: charging dan discharging.
Saat pengisian, arus AC dari adaptor diubah
menjadi DC melalui adaptor charger, lalu masuk ke baterai
Li-ion (±3,7 V) melalui Battery Management System (BMS) yang
mengatur arus-tegangan serta mencegah overcharge dan overheating.
Ketika digunakan, energi DC dari baterai disalurkan dalam tegangan
rendah (±3,7 V) lalu dinaikkan oleh boost converter menjadi 5 V
DC sesuai standar USB. Konversi ini memungkinkan smartphone atau
perangkat lain menerima daya dengan stabil. Kapasitas lebih akurat dihitung
dalam mWh, lalu dikonversi ke 5 V. Namun, karena efisiensi konversi hanya
sekitar 85–90%, sebagian energi hilang dalam bentuk panas. Hal ini
membuat kapasitas riil selalu lebih rendah daripada angka teoritis.
3. Faktor
Keamanan dalam Perakitan
Pemilihan baterai menjadi aspek
utama dalam perakitan power bank. Baterai harus asli dan
berkualitas tinggi, sebab penggunaan baterai bekas atau cacat berpotensi
menimbulkan kebocoran maupun korsleting. Menurut RRI (2021) melaporkan
bahwa sebagian besar kasus kebakaran power bank disebabkan oleh baterai bermutu
rendah yang tidak dilengkapi modul proteksi memadai. Selain kualitas
baterai, keberadaan modul perlindungan juga wajib diperhatikan.
Modul dengan fitur Over
Current Protection (OCP), Over Voltage Protection (OVP), Under
Voltage Protection (UVP), dan Short Circuit Protection (SCP) berfungsi
mencegah arus berlebih dan korsleting. Menurut VARTA (2023),
penggunaan sensor suhu dan detektor tegangan merupakan standar industri untuk
menghindari kondisi tidak aman pada sel baterai litium-ion. Aspek teknis
lain yang tidak kalah penting adalah penyolderan dan pengujian fungsi.
Penyolderan yang tidak rapi dapat
memicu korsleting antarjalur. Harvard EHS (2022) menjelaskan bahwa
pemanasan berlebih saat penyolderan berpotensi merusak struktur internal
baterai dan memicu risiko kebakaran. Oleh karena itu, setiap unit power
bank perlu diuji terlebih dahulu menggunakan multimeter untuk
memastikan keluaran arus dan tegangan sesuai standar keamanan.
C. Gambar Skema
D. Analisis
1. Analisa Laporan
Setiap kegiatan praktikum tidak hanya bertujuan memperoleh data, tetapi
juga melatih kemampuan berpikir kritis dalam membaca pola dari data yang
terbatas. Begitu pula pada praktik pengisian daya baterai pada power
bank rakitan ini. Walaupun durasi pengamatan di sekolah cukup
singkat, hasil yang diperoleh tetap dapat dianalisis secara objektif
untuk menggambarkan kinerja perangkat sekaligus dibandingkan dengan teori
yang berlaku.
Data hasil pengamatan menunjukkan persentase pengisian
sebagai berikut: 12% (awal/0 menit), 13% (5 menit), 14% (10 menit), 18% (20
menit), dan 27% (30 menit). Dari pola tersebut tampak bahwa laju kenaikan
kapasitas baterai tidak berjalan linier. Pada rentang awal (0–10 menit),
peningkatan berlangsung relatif lambat, yakni hanya 2% dalam 10 menit. Hal ini
dapat dipahami karena pada fase awal pengisian, baterai Li-ion memerlukan
stabilisasi internal terutama pada elektroda dan distribusi ionn, sehingga arus
masuk tidak langsung terkonversi penuh menjadi tambahan kapasitas.
Memasuki menit ke-20 hingga 30,
kenaikan mulai terlihat lebih signifikan, dari 18% menjadi 27% dalam waktu 10
menit. Artinya, terdapat peningkatan 9% dalam periode tersebut, atau hampir
lima kali lipat lebih cepat dibandingkan fase awal. Fenomena percepatan ini
konsisten dengan karakteristik umum baterai Li-ion, di mana setelah sistem
internal mencapai kestabilan, aliran ion litium ke dalam anoda menjadi lebih
lancar sehingga proses pengisian relatif lebih efisien (Rahman et al.,
2022).
Namun, karena praktik pengamatan di
sekolah dibatasi hanya sampai menit ke-30, maka data tidak menunjukkan capaian
pengisian hingga 100%. Untuk mengisi kekosongan tersebut, digunakan pendekatan
matematis dengan menghitung laju rata-rata kenaikan daya. Jika diasumsikan
bahwa pola pertumbuhan ini dapat diekstrapolasi secara proporsional, maka 100%
pengisian diperkirakan tercapai pada menit ke-200. Perhitungan ini diperoleh
dengan membandingkan persentase total (100%) dengan capaian aktual pada menit
ke-30 (27%), kemudian melakukan skala waktu sehingga diperoleh estimasi durasi
penuh pengisian.
Dengan demikian, analisis ini tidak
hanya menampilkan hasil observasi langsung, tetapi juga memberi gambaran
perkiraan perilaku baterai jika pengamatan dilakukan hingga titik penuh. Meski
perlu diingat bahwa pendekatan matematis bersifat idealisasi dan tidak
sepenuhnya merepresentasikan kondisi riil (karena di fase mendekati 100%
biasanya laju pengisian kembali melambat), perhitungan ini tetap berguna untuk
memberikan perkiraan waktu pengisian yang komprehensif. Dari selisih 12%
ke 27% dalam waktu 30 menit, diperoleh laju rata-rata:
r = (27 - 12) / 30 = 0.5%
Estimasi waktu penuh secara linear dari 12%:
2. Analisis Referensi Internet
Analisis data praktikum, estimasi
linear, dan kurva teori CC-CV menunjukkan bahwa hasil pengamatan secara umum
selaras dengan literatur, meskipun terdapat perbedaan dalam laju pengisian.
Data praktikum memperlihatkan bahwa pada rentang 0–30 menit, kapasitas baterai
meningkat lambat pada fase awal. Pada menit ke-20 hingga 30, laju pengisian
mulai meningkat lebih cepat. Pola ini sejalan dengan Zhang et al. (2023), yang
menjelaskan bahwa fase awal pengisian Li-ion memerlukan stabilisasi internal
sebelum arus dapat dikonversi secara optimal.
Jika data praktikum diekstrapolasi
secara linear, estimasi waktu pengisian penuh mencapai sekitar 200 menit. Nilai
ini lebih panjang dibandingkan rata-rata 120–180 menit pada sistem komersial
dengan metode CC-CV (Xu et al., 2022; Wikipedia, 2025). Perbedaan ini wajar
karena perangkat yang digunakan merupakan rakitan sederhana tanpa pengendali
arus adaptif. Hal ini menekankan pentingnya memahami konteks perangkat saat
membandingkan hasil eksperimen dengan literatur.
Secara teori, metode CC-CV
menunjukkan pola pengisian yang khas: kapasitas meningkat cepat pada fase arus
konstan (constant current), kemudian melambat mendekati kapasitas penuh pada
fase tegangan konstan (constant voltage). Estimasi linear cenderung lebih
lambat dan kurang akurat karena tidak mempertimbangkan perlambatan pada fase
akhir. Dengan demikian, data praktikum merepresentasikan bagian awal proses
pengisian. Perhitungan linear hanya memberikan gambaran kasar durasi penuh
pengisian.
Hasil praktikum juga menekankan
pengaruh desain perangkat terhadap performa pengisian. Rakitan sederhana tanpa
kontrol arus adaptif menunjukkan fase awal lebih lambat dibandingkan perangkat
komersial. Hal ini mengajarkan bahwa kemampuan pengendalian arus dan efisiensi
internal sel memengaruhi kecepatan pengisian. Eksperimen sederhana memberi
pemahaman dasar tentang prinsip pengisian baterai.
Jika dibandingkan dengan teknologi mutakhir, seperti baterai solid-state
Stellantis dan Factorial yang mampu mengisi 15%–90% hanya dalam 18
menit (Poh, 2024), hasil praktikum menunjukkan kontras yang jelas.
Perangkat rakitan sekolah memang jauh dari teknologi canggih. Namun, percobaan
ini memungkinkan siswa memahami prinsip dasar baterai dan melihat horizon masa
depan teknologi penyimpanan energi. Analisis sistematis ini juga
melatih kemampuan kritis dalam menilai faktor-faktor yang memengaruhi hasil
pengisian dan membandingkannya dengan teori.
E.
Kesimpulan
1. Kesimpulan Laporan
Hasil praktikum
pengisian daya power bank rakitan menunjukkan bahwa laju kenaikan kapasitas
baterai tidak linier, meningkat lambat pada fase awal (0–10 menit) dan lebih
cepat pada menit ke-20 hingga 30. Dari data pengamatan, laju rata-rata kenaikan
daya adalah 0,5% per menit, dan estimasi waktu pengisian penuh secara linear
diperkirakan mencapai 200 menit. Analisis ini menekankan bahwa meski data
praktikum terbatas, pola pengisian yang diperoleh selaras dengan karakteristik
baterai Li-ion pada fase awal. Percobaan ini memberikan pemahaman praktis
tentang prinsip dasar pengisian baterai dan pentingnya membaca pola data secara
kritis.
2. Kesimpulan Referensi
Analisis literatur
dan referensi menunjukkan bahwa pengisian baterai Li-ion mengikuti pola CC-CV:
kapasitas meningkat cepat pada fase arus konstan (constant current) dan
melambat mendekati kapasitas penuh pada fase tegangan konstan (constant
voltage) (Zhang et al., 2023; Xu et al., 2022; Wikipedia, 2025). Estimasi
linear cenderung lebih lambat karena tidak memperhitungkan perlambatan fase
akhir, sehingga data praktikum merepresentasikan bagian awal proses pengisian,
sedangkan perhitungan linear hanya memberikan gambaran kasar durasi penuh.
Hasil ini juga menunjukkan bahwa desain perangkat, termasuk kemampuan
pengendalian arus dan efisiensi internal sel, memengaruhi performa pengisian.
Jika dibandingkan dengan teknologi mutakhir seperti baterai solid-state Stellantis dan Factorial yang mampu mengisi 15%–90% hanya dalam 18 menit (Poh, 2024), power bank rakitan sekolah jelas memiliki keterbatasan. Meski demikian, percobaan sederhana ini memberikan perspektif pembelajaran yang penting: siswa dapat memahami prinsip dasar pengisian baterai, membandingkan hasil praktikum dengan literatur, serta menilai potensi perkembangan teknologi penyimpanan energi di masa depan. Analisis sistematis semacam ini melatih kemampuan kritis dan menumbuhkan pemahaman ilmiah yang mendalam.
F.
Kesan dan Pesan
1. Kesan
Praktikum ini meninggalkan kesan
mendalam karena memadukan proses ilmiah dengan kreativitas desain. Bermula dari
perakitan berkelompok dengan dua orang, setiap langkah menuntut ketelitian,
koordinasi, dan pemahaman teknis, mulai dari penyolderan, penataan sel baterai,
hingga modul proteksi. Desain casing yang minimalis berbentuk kulkas mini
dengan pintu sebagai akses baterai menambah pengalaman belajar yang
menyenangkan sekaligus fungsional, membuat sains terasa nyata dan estetis. Saat
melakukan pengukuran kapasitas dan memantau laju pengisian, terlihat jelas
bagaimana prinsip dasar baterai Li-ion bekerja di balik bentuk yang sederhana
namun cerdas.
2. Pesan
Percobaan ini mengajarkan bahwa
ilmu pengetahuan dan kreativitas berjalan beriringan; inovasi sederhana seperti berbentuk kulkas mini bisa mempermudah fungsi sekaligus memikat secara visual.
Perakitan dan pengukuran menekankan pentingnya kerja sama, ketelitian, dan
pemahaman mendalam terhadap prinsip kerja komponen, serta memberi kesempatan
untuk berpikir kritis dan analitis. Keterbatasan alat atau durasi tidak
menghalangi pembelajaran, justru mendorong siswa untuk kreatif, menafsirkan
data, dan mengeksplorasi ide desain yang efisien dan elegan. Dari pengalaman
ini, tersirat pesan bahwa setiap inovasi, sekecil apapun, lahir dari fondasi
ilmiah yang kuat, ketekunan, dan keberanian untuk menggabungkan fungsi dengan
estetika secara bijak.
Daftar Pustaka
Battery University. (n.d.). BU-409: Charging Lithium-ion. Diakses dari https://batteryuniversity-com.translate.goog/article/bu-409-charging-lithium-ion _x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
Goodenough, J. B., & Park, K.-S. (2013). The Li-ion rechargeable battery: A perspective. Journal of the American Chemical Society, 135(4), 1167–1176. https://doi.org/10.1021/ja3091438
Harvard Environmental Health & Safety (EHS). (2021). Lab Safety Guideline: Lithium-Ion Batteries. Harvard University. https://www.ehs.harvard.edu/sites/default/files/lab_safety_guideline_lithium_ion_batteries.pdf
Listrik-Praktis. (2015, June 3). Cara menghitung kapasitas power bank yang sebenarnya. https://www.listrik-praktis.com/2015/11/cara-membaca-nilai-mah-power-bank.html?utm_source=.com
Poh, K. (2024). Rapid charging of solid-state batteries: Advances and industrial applications. Advanced Energy Materials, 14(2), 2100987. https://www.theverge.com/news/654768/stellantis-solid-state-batteries-charge-speed-temperature-factorial?utm_source=.com
Radio Republik Indonesia (RRI). (2021, Desember 14). Bahaya memakai power bank secara berlebihan. https://rri.co.id/iptek/978417/bahaya-memakai-power-bank-secara-berlebihan#:~:text=Salah%20satu%20risiko%20utama%20penggunaan,dan%20berpotensi%20meledak%20atau%20terbakar.
VARTA AG. (2023). Lithium-ion battery safety and protection features. VARTA Microbattery. https://www.varta-ag.com/en/konsument/wissen/consumer-themenwelt/advanced-safety-technology?utm_source=.com
Wikipedia. (2025). Lithium-ion battery. https://en.wikipedia.org/wiki/Lithium-ion_battery
Wikipedia. (n.d.). Rechargeable battery. https://en.wikipedia.org/wiki/Rechargeable_battery?utm_source=.com
Zhang, X., Li, Y., & Chen, H. (2021). Charging control strategies for lithium-ion battery packs: Review and recent developments. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/356575545_Charging_control_strategies_for_lithium-ion_battery_packs_Review_and_recent_developments?utm_source=.com
IET Research. (2023). Power Electronics Letters. https://ietresearch.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1049/pel2.12226
MDPI. (2023). Electronics, 12(19), 4095. https://www.mdpi.com/2079-9292/12/19/4095?utm_source=.com
Komentar
Posting Komentar